BOYOLALI — Keberhasilan warga binaan Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Boyolali dalam mengembangkan budidaya melon hidroponik kembali mendapat apresiasi dari masyarakat. Hasil pembinaan tersebut diwujudkan melalui kegiatan wisata petik melon yang dibuka bagi masyarakat Boyolali dan sekitarnya pada Rabu (12/8/2026).
Sejak dibuka pukul 09.00 WIB, masyarakat tampak antusias mendatangi greenhouse hidroponik Rutan Boyolali untuk melihat sekaligus membeli secara langsung melon hasil budidaya warga binaan. Melon jenis Sweet Lavender yang dipanen pada periode kali ini bahkan ludes terjual dalam waktu sekitar satu jam tiga puluh menit.
Antusiasme masyarakat tersebut menjadi gambaran bahwa keterampilan yang diperoleh warga binaan melalui program pembinaan kemandirian mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat diterima oleh masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto, mengatakan pada periode panen kali ini warga binaan membudidayakan sekitar 124 pohon melon. Setiap pohon mampu menghasilkan satu hingga dua buah melon.
“Pada periode panen kali ini ada sekitar 124 pohon melon. Dalam satu pohon ada yang menghasilkan satu dan ada juga yang menghasilkan dua buah melon,” ujar Ervans.
Menurut Ervans, keberhasilan panen tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan dan keterampilan yang diberikan kepada warga binaan dalam mengelola budidaya melon hidroponik, mulai dari perawatan tanaman hingga proses pemanenan.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Boyolali dan sekitarnya yang telah memberikan dukungan dengan datang dan membeli hasil budidaya tersebut.
“Terima kasih kepada masyarakat yang telah hadir dan memberikan dukungan terhadap hasil pembinaan warga binaan. Antusiasme masyarakat tentu menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan program pembinaan kemandirian,” katanya.
Melon Sweet Lavender hasil budidaya warga binaan tersebut dijual dengan harga Rp30.000 per kilogram. Rutan Boyolali juga menyediakan pembayaran secara digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.
Program budidaya melon hidroponik menjadi salah satu bentuk pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif. Tidak hanya belajar bercocok tanam, warga binaan juga mendapatkan pengalaman dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai jual dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Keberhasilan panen dan tingginya minat masyarakat terhadap hasil budidaya tersebut menunjukkan bahwa proses pembinaan dapat memberikan hasil yang nyata. Dari lingkungan Rutan Boyolali, warga binaan didorong untuk terus berkarya, mengembangkan keterampilan, serta mempersiapkan diri agar memiliki bekal kemandirian ketika kembali ke tengah masyarakat.
Melalui budidaya melon hidroponik tersebut, Rutan Boyolali terus menguatkan semangat “Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat” dengan menghadirkan program pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan warga binaan, tetapi juga menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. (sg)


Posting Komentar