Boyolali – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Boyolali
terus mengoptimalkan budidaya magot sebagai bagian dari upaya mendukung
pengelolaan limbah organik sekaligus memperkuat program ketahanan pangan di
lingkungan rutan. Kegiatan yang dilaksanakan di area budidaya magot tersebut
melibatkan warga binaan di bawah pendampingan petugas pembinaan kemandirian.
Budidaya magot diawali dengan penetasan telur lalat Black
Soldier Fly (BSF) sebanyak 5 gram yang dimulai pada 16 Juli 2026. Saat ini,
magot telah berusia lima hari setelah menetas dan memasuki fase awal
pertumbuhan.
Pada tahap awal pemeliharaan, magot diberikan pakan berupa pellet
serbuk dan sejumlah makanan yang bertekstur lembut dan basah untuk memastikan
pertumbuhan berlangsung optimal. Setelah memasuki usia dan ukuran yang sesuai,
magot akan mulai dibiasakan mengonsumsi limbah organik. Proses ini bertujuan
agar magot mampu beradaptasi dengan baik sebagai agen pengurai limbah organik
sekaligus menghasilkan biomassa yang kaya protein.
Optimalisasi budidaya magot menjadi salah satu langkah Rutan
Boyolali dalam membangun sistem pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.
Limbah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi sisa buangan dapat
dimanfaatkan sebagai sumber pakan magot, sehingga menciptakan siklus
pemanfaatan sumber daya yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Selain mendukung pengelolaan limbah, budidaya magot juga
menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan. Melalui
kegiatan ini, warga binaan dibekali keterampilan praktis di bidang budidaya
yang diharapkan dapat menjadi bekal produktif setelah kembali ke masyarakat.
Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto,
dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa pengembangan budidaya magot
memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan melalui konsep
integrated farming system yang diterapkan di Rutan Boyolali.
"Budidaya magot tidak hanya menjadi solusi dalam
pengelolaan limbah organik, tetapi juga mendukung ketahanan pangan melalui
penyediaan sumber pakan alternatif yang bernilai gizi tinggi. Magot nantinya
akan dimanfaatkan sebagai pakan berprotein tinggi bagi budidaya ikan patin,
ikan nila, serta ternak ayam dan enthok yang dikembangkan di Rutan Boyolali.
Dengan demikian, seluruh sektor saling terintegrasi dan menciptakan sistem
pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan," ujar Ervans.
Melalui optimalisasi budidaya magot tersebut, Rutan Boyolali
berkomitmen menghadirkan program pembinaan yang produktif, berwawasan
lingkungan, serta mendukung implementasi ketahanan pangan. Program ini
diharapkan mampu memberikan manfaat nyata, baik dalam mengurangi volume limbah
organik, meningkatkan efisiensi budidaya, maupun membekali warga binaan dengan
keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. (sg)


Posting Komentar